PKPM NUKU YOGYAKARTA

PKPM NUKU Yogyakarta: Ratusan Penonton Hadir dalam Penyelenggaraan Toadore Festival Vol. II di Titik Nol Yogyakarta.

PKPM NUKU Yogyakarta: Ratusan Penonton Hadir dalam Penyelenggaraan Toadore Festival Vol. II di Titik Nol Yogyakarta.
PKPM NUKU Yogyakarta: Ratusan Penonton Hadir dalam Penyelenggaraan Toadore Festival Vol. II di Titik Nol Yogyakarta
YOGYAKARTA — Suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada akhir pekan, 25–26 Oktober 2025, berubah menjadi lautan warna, musik, dan rasa budaya Timur Indonesia. Ratusan penonton memadati area Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk menyaksikan gelaran Toadore Festival Vol. II, yang diinisiasi oleh Perkumpulan Keluarga Pelajar Mahasiswa Nuku (PKPM NUKU) Yogyakarta.
Festival yang berlangsung selama dua hari ini menjadi ruang ekspresi generasi muda Tidore dalam memperkenalkan warisan budaya Maluku Utara ke kancah nasional. Dengan tema “Jejak, Rasa, dan Nada ”, acara ini memadukan seni tari, musik, sastra, kuliner, hingga pameran UMKM dan arsip sejarah Tidore.
________________________________________
Tujuan dan Semangat Penyelenggaraan
Melalui festival ini, PKPM NUKU Yogyakarta menegaskan dua tujuan utama penyelenggaraan Toadore Festival Vol. II:
1. Mendukung proses pengesahan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia; dan
2. Merekomendasikan warisan budaya tak benda kepada Pemerintah Daerah Tidore Kepulauan, di antaranya Hula Keta (Sagu Jai), Lapis Tidore, dan Sarabati.
Ketiga unsur budaya tersebut akan dihadirkan secara simbolik dalam kegiatan OYO BARI, pada 26 Oktober 2025 pukul 10.15 WIB, sebagai representasi rasa, nilai, dan kesinambungan tradisi dari tanah Tidore.
________________________________________
Ragam Kegiatan dan Dukungan Pemerintah
Salah satu kegiatan pembuka pada hari pertama, Sabtu (25/10), adalah Lomba Menggambar Tingkat SMP yang diikuti oleh 14 peserta dari berbagai sekolah di Yogyakarta. Melalui karya mereka, para peserta diajak mengenal lebih dekat tokoh dan simbol budaya Kesultanan Tidore.
Selain lomba, festival ini juga menghadirkan pameran UMKM lokal dan nasional, serta pameran arsip sejarah budaya Tidore dan Maluku Utara yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang melintas di kawasan Malioboro.
Acara resmi dibuka oleh Pemerintah Kota Tidore Kepulauan yang diwakili oleh Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesra, Dr. Syofyan Saraha, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada para mahasiswa Tidore di Yogyakarta.
“Kami bangga, anak-anak muda Tidore mampu menghadirkan perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengenal lebih dekat budaya Tidore. Kami juga akan berupaya menjadikan Toadore Festival sebagai agenda tahunan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan,” ujarnya.
Festival ini juga dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Sosial, Budaya, dan Kemasyarakatan, Dr. Didik Wardaya, SE., M.Pd., yang menyampaikan dukungan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Yogyakarta adalah titik temu kebudayaan Nusantara. Toadore Festival menjadi wujud nyata kolaborasi budaya antara Tidore dan Jogja,” ungkapnya.
________________________________________
Semangat Kolektif Mahasiswa Tidore
Ketua Panitia Furqan Rivhay Rahman mengungkapkan bahwa proses penyelenggaraan acara ini memakan waktu hampir enam bulan dengan banyak dinamika.
“Tidak mudah, karena keterbatasan tenaga dan dana. Tapi kami percaya niat baik akan selalu bermuara pada hasil baik. Semangat teman-teman tidak pernah padam,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PKPM NUKU Yogyakarta, Afdan Abdullatif, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar pentas budaya, tetapi juga bentuk dukungan terhadap pelestarian identitas dan sejarah Tidore.
“Melalui festival ini, kami ikut mendukung proses pengesahan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional, serta merekomendasikan beberapa warisan budaya tak benda seperti Hula Keta (Sagu Jai), Lapis Tidore, dan Sarabati kepada Pemerintah Daerah Tidore Kepulauan,” jelasnya.
________________________________________
Puncak dan Penutupan
Puncak acara pada Sabtu malam menghadirkan pertunjukan kolosal “Budaya Tidore di Bumi Mataram”, disusul berbagai penampilan seni dari mahasiswa se-Nusantara: tari, puisi, musik, dan teatrikal. Malam itu, suasana Titik Nol Yogyakarta bergemuruh oleh sorak penonton yang terpukau oleh ragam budaya dari Timur Indonesia.
Pada Minggu (26/10), kegiatan dilanjutkan dengan OYO BARI — makan bersama makanan tradisional Tidore seperti Sarabati, Sagu Jai, dan Lapis Tidore. Acara ini menjadi simbol kebersamaan dan bentuk silaturahmi antara masyarakat Tidore dan Yogyakarta. Suasana hangat terasa ketika warga, wisatawan, dan mahasiswa duduk lesehan bersama di bawah langit Malioboro, menikmati cita rasa khas Timur yang kaya filosofi.
Sebagai penutup, Dr. Syofyan Saraha kembali menyampaikan apresiasi dan harapan agar semangat anak muda Tidore di Yogyakarta terus menyala.
Toadore Festival Vol. II resmi ditutup dengan pertunjukan musik pop lokal dan sesi foto bersama seluruh peserta serta penonton.
Acara ini bukan sekadar festival, tetapi sebuah jembatan silaturahmi antara Tidore dan Yogyakarta dua daerah yang sama-sama menjunjung tinggi nilai budaya, sejarah, dan persaudaraan Nusantara.