PKPM NUKU YOGYAKARTA

Toadore Festival Volume II: Dari Timur, Menyapa Dunia.

Toadore Festival Volume II: Dari Timur, Menyapa Dunia.
Toadore Festival Volume II: Dari Timur, Menyapa Dunia

Oleh: Afdan Abdullatif
Ketua PKPM Nuku Yogyakarta

Perantauan adalah laut yang luas dan tak semua kapal mampu bertahan di atasnya. Kami berlayar dari Tidore ke Yogyakarta bukan hanya memikul tas dan buku, tetapi juga kerinduan yang beratnya melebihi batu karang. Di kota ini, di bawah langit yang berbeda, kami tumbuh, menimba ilmu, dan menjaga nyala ingatan tentang tanah kelahiran. Maka ketika seorang pemimpin datang menyusuri jarak itu, kami tak sekadar menyambut sosoknya; kami menyambut angin dari rumah, yang membawa kabar, perhatian, dan janji.

Kunjungan Bapak Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menjadi pertemuan yang tak sekadar seremonial. Di ruang diskusi, suara dan gagasan mengalir, membicarakan masa depan asrama yang selama ini menjadi rumah kedua bagi mahasiswa Tidore di Yogyakarta.

Usai berdiskusi, beliau menapaki setiap lantai, dari lantai satu hingga lantai tiga. Di sana, mata beliau menangkap kenyataan yang kami alami: empat kamar dengan atap yang bocor, membuat hujan yang turun tak hanya membasahi plafon, tapi juga menetes membentuk genangan yang mencipta resah di hati. Beliau tidak menutup mata. Dengan nada penuh tanggung jawab, beliau berjanji akan mengomunikasikan masalah ini kepada Pemerintah Daerah agar segera dilakukan perbaikan. Sebab bagi kami, atap yang kokoh adalah pelindung, dan rumah yang layak adalah tempat tumbuhnya masa depan.

Namun kunjungan ini tak berhenti di urusan dinding dan atap. Ada pembicaraan yang lebih besar tentang maksud mulia untuk menggelar Toadore Festival Volume II pada 17–19 Oktober 2025, di jantung Yogyakarta, Titik Nol Kilometer. Sebuah panggung budaya yang kami siapkan bukan hanya untuk merayakan identitas, tetapi untuk mengedukasi seluruh masyarakat Indonesia tentang warisan besar Sultan Zainal Abidin Syah terhadap NKRI, dan memperkenalkan kekayaan takbenda seperti Sarabati, sagu jai, dan kue lapis Tidore. Bagi kami, Toadore Festival tak sekedar giat seremonial yang singgah dan melipir menyapa khalayak ramai. Lebih dari itu, Toadore Festival adalah bentuk ekspresi diri dari anak cucu tentang kecintaan terhadap daerah asal, yang di dalamnya memuat pesan bahwa negeri kami Tidore patut mendapatkan perhatian yang lebih, mengingat kontribusi yang pernah diberikan pemimpin kami di masa lampau.

Selain rumah kedua kami, Yogyakarta adalah kiblat pendidikan, tempat di mana anak-anak bangsa datang dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu dan membentuk masa depan. Kota ini berbeda dengan daerah lain. Di sini, pengetahuan bertemu dengan budaya, dan pertemuan itu melahirkan gagasan besar.

Toadore Festival Volume II bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan panggilan dari Timur yang lahir di tanah para sultan untuk berbicara kepada dunia. Dari Yogyakarta, kota yang menjadi simpul pendidikan dan pertemuan gagasan, gema Tidore akan melintasi batas-batas pulau, menembus cakrawala, dan menyapa dunia dengan bahasa yang tak lekang oleh zaman: budaya.