PKPM NUKU YOGYAKARTA

Kunjungan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan ke Asrama PKPM Nuku Yogyakarta: Antara Silaturahmi, Kritik, dan Harapan

Kunjungan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan ke Asrama PKPM Nuku Yogyakarta: Antara Silaturahmi, Kritik, dan Harapan
Kunjungan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan ke Asrama PKPM Nuku.

Yogyakarta Jumat, 08 Agustus 2025. Bukan sekadar datang dan pulang, kunjungan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman, S.Sos., bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Daud Muhammad, S.Sos., ke Asrama PKPM Nuku Yogyakarta menjadi ruang pertemuan yang padat makna. Tujuan utamanya jelas: bersilaturahmi dengan mahasiswa asal Tidore yang menuntut ilmu di Kota Pelajar sekaligus melihat langsung kondisi asrama.

Namun, yang terlihat tak selalu sama dengan yang diharapkan. Empat kamar di lantai atas mengalami kebocoran plafon. Setiap hujan turun, air menetes tanpa henti, menggenang di lantai. Wakil Wali Kota berjanji akan mengkomunikasikan persoalan ini kepada Pemerintah Daerah, agar segera ada langkah perbaikan. “Ini pekerjaan rumah bersama,” ujarnya, “dan jangan lupa, anak-anak muda punya peran untuk memberi harapan baru dan pemikiran segar.”

Ahmad Laiman tidak menutupi kekhawatirannya terhadap pola pikir yang terlalu tradisional. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak cukup sekadar mengejar gelar untuk menjadi ASN. “Kalau kuliah, bangun kreativitas berpikir. Cari gagasan baru yang bermanfaat untuk masyarakat. Belajar berpikir metodologis dan analitis. Tidore punya kelebihan dan kekurangan yang penting adalah, mau diapakan ke depan?”

Ia mengingatkan, berpikir kritis itu sebuah kewajiban, terutama bagi mahasiswa yang belum memiliki kepentingan politik. “Politisi pasti punya kepentingan. Mahasiswa? Harus berani bilang, salah tetap salah? tapi tetap dengan etika.”

Poin penting lain yang ia tekankan adalah perencanaan. Baginya, rencana tidak boleh hanya diucapkan, tapi harus terdokumentasi dan terkonsep. Ia mencontohkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) sebagai pondasi pembangunan. “Diskusikan Tidore secara kritis. Bandingkan dengan Jogja atau daerah lain. Jogja itu berbeda. Jogja adalah kiblat pendidikan, tempat orang dari mana saja datang belajar. Ada sesuatu yang membuatnya tak sama dengan daerah lain dan itu harus jadi bahan renungan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi aktif antara mahasiswa dan pemerintah. Sebab tanpa surat, tanpa administrasi yang rapi, banyak hal bisa terlewat. Ia mengibaratkan asrama yang terbengkalai seperti kandang ayam yang ditinggalkan: “Kalau lampu untuk mengeram saja tak ada, bagaimana telur mau menetas?”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Daud Muhammad, menambahkan bahwa dirinya mendapat mandat untuk mengembangkan pariwisata, pertanian, dan perikanan Tidore. Semua itu, menurutnya, akan lebih bermakna jika ada kontribusi pemikiran dari generasi muda.

Silaturahmi itu pun berakhir, tapi pesannya menggantung di udara. Bahwa membangun Tidore bukan hanya tugas pejabat di kursi pemerintahan. Ini adalah panggilan untuk semua anak muda khususnya mahasiswa Tidore, berpikir, merencanakan, dan bertindak dengan visi yang jelas, tanpa takut mengusik kenyamanan.

PKPM Nuku Yogyakarta telah mendengar. Kini, tinggal memilih: diam atau bergerak.